Selasa, 10 November 2015

MAKALAH SEJARAH PERADABAN ISLAM



“TIGA KERAJAAN ISLAM”

MAKALAH
DiajukanUntukMemenuhi Salah SatuTugasTertrukstur Mata Kuliah
SejarahPeradaban Islam

Oleh:
ASIKIN ABDUL AZIZ


 









FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UIN SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2012/2013








BAB I
Pendahuluan
1.      Latar belakang
            Kejayaan islam telah di mulai ketika rasullah berhasil menguasai mekkah dan madinah. Dengan berlandaskan ahlak yang baik, ketauhidan dan keyakinan yang kuat sehingga beliau Nabi Muhammad SAW berhasil menegakkan islam dengan kaffah di madinah. Kejayaan yang gelang gemilang ini diteruskan oleh para sahabat-sahabat Nabi yang kemudian kita kenal dengan “khulafa ar-ryasiddin” dari mulai Abu bakar ash-shidiq,umar bin khattab,ustman bin affan dan imam ali as.
            Namun dengan berjalan-nya waktu dan silih bergantinya kekuasaan banyak permasalah politik yang di alami oleh para pemimpin-pemimpin muslim di akibat kan karena pemberontakan yang dilakukan oleh para kaum yang tidak menyetujui pembai’atan pemimpin yang di rasa kurang atau ketidak pantasan untuk memimpin kaum muslim. Seperti ketika imam Ali as memimpin kaum muslim sebagai khalifah ke-empat yang menggantikan ustman bin affan yang wafat, ketidak setujuan kepemimpinan ali langsung di lontarkan oleh muawiyyah bin abu sufyan dikarenakan mencurigai Ali atas kematian Ustman bin affan. Terjadinya timpang tindih ini mengakibatkan pemberontakan yang amat besar sehingga perang saudara pun tak dapat terelakan. Setelah pemberontakan yang cukup lama di lontarkan oleh Muawwiyah akhirnya Imam Ali pun terbunuh dan kekuasaan pun di pegang oleh muawiyyah yang terkenal sebagai pendiri Dinasti Bani Umayah yang terletak di syiri’a tepat nya di Damaskus.
Tidak sampai disini peralihan kekuasaan yang di pegang Bani Umayah pun mendapat pemberontakan khususnya dari pihak Bani Abbasiyah yang mendominasi pemerintahan Bani Umayah dan berhasil merebut kekuasaan dari tangan Bani Umayyah. Pergantian kekuasaan dan pemberontakan ini tidak lepas dari prediksi Nabi Muhammad SAW beliau Bersabda.. “ kekhalifahan setelah ku akan berlangsung dalam rentang waktu tiga puluh tahun kemudian berubah menjadi kerajaan yang mencengkram” dalam hadist tersebut perlu diakui bahwasannya ke khalifahan yang hakiki atau yang sempurna  hanya berlangsung tiga puluh tahun. Maka di sini kami akan memaparkan tiga kerajaan besar yang mempunyai kekuasaan yang cukup besar pula yaitu kerajaan ilkhan,kerajaan timur lenk dan kerajaan mamluk/mamalik.
1.      Rumusan masalah

1.      Sejarah kerajaan ilkhan kejayaan dan kemunduranya ?
2.      Sejarah kerajaan timur lenk ?
3.      Sejarah kerajaan mamluk/mamalik ?














BAB II
PEMBAHASAN
1.1  kerajaan ilkhan kejayaan dan kemunduran
Bani Ilkhan, berasal dari rumpun bangsa Mongol, yang pernah berkuasa di kawasan Asia Tengah pada rentang masa 1256–1353 M dengan pusat kekuasaan di Turkistan. Bangsa Mongol, merupakan bangsa yang berasal dari daerah pegunungan Mongolia yang membentang dari Asia Tengah sampai ke Siberia Utara, Tibet Selatan dan Manchuria Barat serta Turkistan Timur, dimana nenek moyang mereka bernama Alanja Khan, yang mempunyai dua putera kembar, Tartar dan Mongol. Dari kedua inilah melahirkan dua suku bangsa besar, Mongol dan Tartar. Dan selanjutnya Mongol mempunyai anak bernama Ilkhan yang kemudian dirujuk menjadi Bani Ilkhan, yang melahirkan keturunan pemimpin bangsa Mongol di kemudian hari.
Dalam rentang waktu yang sangat panjang, kehidupan bangsa Mongol tetap sederhana. Mereka mendirikan kemah-kemah dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, menggembala kambing dan hidup dari hasil buruan. Mereka juga hidup dari hasil perdagangan tradisional, yaitu mempertukarkan kulit binatang dengan binatang yang lain, baik di antara sesama mereka maupun dengan bangsa Turki dan Cina yang menjadi tetangga mereka. Sebagaimana umumnya bangsa nomaden, orang-orang Mongol mempunyai watak yang kasar, suka berperang, dan berani menghadang maut dalam mencapai keinginannya. Akan tetapi, mereka sangat patuh kepada pemimpinnya. Mereka menganut agama Syamaniah (Syamanism), menyembah bintang-bintang, dan sujud kepada matahari yang sedang terbit.
Dinasti Ilkhan adalah sebuah dinasti yang dibangun oleh orang-orang Mongol, ketika mereka berhasil menginvasi dan menguasai Baghdad sebagai pusat kekuasaan dari Khilafah Abbasiyah. Dinasti Ilkhan berdiri pada tahun 1258, pada saat Hulagu Khan berhasil memantapkan kekuasaannya di Baghdad (Harun Nasution, 1985: 80). Ilkhan sendiri artinya artinya warga khan yang agung (C.E. Bosworth, 1993:176). Ilkhan juga adalah gelar yang diberikan kepada Hulaghu Khan sebagai bentuk penghargaan terhadap prestasi-prestasinya yangdiperolehnya ketika sukses melakukan ekspansi wilayah dan mengalahkan setiap musuh-musuhnya.
Dinasti Ilkhan telah eksis lebih dari delapan dasawarsa. Ketika membicarakan dinasti Ilkhan, di kalangan para peneliti atau pemerhati sejarah umumnya mereka bersepakat bahwa Dinasti Ilkhan yang memerintah di wilayah Iran, Irak, Anatolia dan daerah-daerah lainnnya didirikan di atas banjir darah manusia dan puing-puing kehancuran dari institusi kekuasaan yang dihancurkannnya. Pandangan ini tidaklah keliru dan bisa dipahami, karena Hulagu Khan sebagai pendiri dari dinasti Ilkhan beserta tentaranya, kehadirannnya ke berbagai wilayah hanya mendatangkan malapetaka dan menimbulkan bencana bagi manusia.
Fakta sejarah telah banyak menunjukkan bahwa pada saat Hulagu Khan melakukan penyerbuan banyak penduduk dari beberapa kota dan kampung dimusnahkan secara sistemik. Di setiap daerah yang dijumpai acapkali ditemukan telah kosong dan menjadi tidak berpenduduk disebabkan oleh kehadiran pasukan penyerbu dan oleh gelombang tentara Mongol yang mengusir kaum petani. Kaum penyerbu tersebut membantai penduduk setempat, menjadikan mereka sebagai budak dan membebani mereka dengan pajak, sehingga menyita seluruh kekayaan mereka. Dalam konteks ini Ira M. Lapidus (1999:428) sampai menyatakan penyerbuan Hulagu Khan sebagai sebuah bencana besar yang melanda penduduk akibat pembantaian dan pembunuhan. Tidak hanya itu, kehidupan perekonomian pun hancur karena selama satu abad atau lebih salah satu sumber penghidupan masyarakat Iran yaitu kerajinan tembikar dan pengolahan logam tidak bisa berproduksi.
Rezim dari Dinasti Ilkhan yang berkuasa di Iran, Irak, Anatolia, pada kenyataannnya lebih merupakan sebuah rezim penakluk. Dinasti ini dibentuk dari sebuah pasukan besar yang dihimpun dari para aristokrasi militer kesukuan yang bersekutu dengan dinasti yang sedang berkuasa. Kelompok aristokrat ini dalam perjalanannya telah memandang diri mereka sendiri sebagai manusia istimewa yang berhak mendominasi dan memungut pajak kepada rakyatnya. Rasa superioritas ini terefleksi dari sebuah undang-undang yang dimilikinya, Alyasak, yang menetapkan hak-hak dan kewajiban kalangan elite dan pengesahan pemerintahannnnya(Hassan Ibrahim Hassan, 1967: 136-139).
Raja-raja Dinasti Ilkhan memerintah di Iran, Irak, Anatolia dan daerah-daerah disekelilingnya dilakukan dengan me-manaje distribusi tanah kepala-kepala militer untuk mengolahnya atau memungut pajak atasnya. Selanjutnya kepala-kepala militer tersebut membagi-bagikan tanah tersebut di antara anak buah mereka. Padang rumput dan tanah garapan dipadukan menjadi sebuah pertanahan yang disebut Tuyul, sebuah konsep yang memadukan cita-cita Mongolian tentang distribusi padang rumput dan konsep administratif Iran tentang distribusi hak mengumpulkan pajak (Ira M. Lapidus, 1999: 430).
Kemudian, roda pemerintahan Mongol dijalankan dengan menggantungkan diri melalui dukungan keluarga-keluarga bangsawan setempat, sebagaimana yang pernah terjadi pada beberapa dinasti Seljuk sebelumnya. Kebijakan para penguasa Dinasti Ilkhan dalam melaksanakan roda pemerintahannnya berusaha menyatukan diri dengan beberapa birokrat, para pedagang, dan ulama perkotaan Iran. Ulama melanjutkan atau memperkokoh kedudukan mereka dengan memposisikan diri sebagai elit lokal. Para ulama pada masa Dinasti Ilkhan umumnya banyak mengisi jabatan qadhi, dai, kepala pasar, dan sejumlah jabatan lainnya (Ira M. lapidus, 1999: 430).
Selanjutnya Ira M. lapidus (1999: 430-431 ) memberikan gambaran tentang kehidupan kelompok elit yang hidup di perkotaan. Kelompok elit yang hidup diperkotaan di mana prestise mereka didasarkan pada pendidikan Islam, umumnya kekuasaan mereka didasarkan kepada unsur kepemilikan tanah, perkebunan dan kekuasaannya menangani tanah wakaf. Para penguasa Dinasti Ilkhan telah menempatkan kedudukan kelompok ini dalam tugas-tugas administrasi finansial dan yudisial untuk menyokong kelangsungan pemerintahan lokal dan menahan dampak negatif akibat perubahan rezim militer. Kelompok ini juga ditugaskan untuk membantu tugas administratif dalam pembentukan pemerintahan Dinasti Ilkhan .
Wilayah kekuasaan dinasty Ilkhan sangat luas, meliputi bagdad, asia kecil dan india sebelah timur. Di dalam perkembanganya, Dinasti Ilkhan banyak di pimpin oleh pemimpin-pemimpin yang gagah berani dan taat pada agama. Tetapi tidak semua masa keemasan itu dirasakan oleh Dinasti Ilkhan, banyak faktor yang meyebabkan kemunduran Dinasti Ilkhan, mulai dari kelemahan-kelemahan pemimpin pada masa akhir Dinasty Ilkhan dan serangan yang dilakukan oleh raja yang gagah berani yang suka berekspedisi untuk melakukan penaklukan-penaklukan dinasty lainya yaitu yang bernama Timur Lenk.

Dinasty Ilkhan yang didirikan oleh Hulagu Khan ini terpecah pada masa kepemimpinan Abu Sa’id (1317-1335 M) dan setelahnya. Masing-masing pecahan saling memerangi. Dan akhirnya, mereka semua menjadi lemah dan mudah dilakukan oleh Timur Lenk.
1.2  kerajaan timur lenk
Kedatangan Timur Lenk ke dunia Islam tidak kurang membawa kehancuran , bahkan ia lebih kejam daripada Jengiskan atrau Hulagukhan. Berbeda dengan Jengiskan atau Hulagukhan yang masih menganut kepercayaan Syamaniah, Timur Lenk ini sudah menganut agama “Islam.”Pada tanggal 10 April 1370 M. Timur Lenk memproklamirkan diri sebagai penguasa tunggal di Tranxosiana. Ia berencana untuk menaklukkan daerah-daerah yang pernah dikuasai oleh Jengiskhan. Ia berkata : “Sebagaiamana hanya ada satu Tuhan di alam ini , maka di bumi seharusnya hanya ada seorang raja.”Pada tahun 1381 M. ia menaklukkan Khurasan, terus ke Afganistan, Persia, Fars dan Kurdistan.
Sekalipun ia terkenal sebagai penguasa yang sangat ganas dan kejam terhadap para penentang nya, sebagai seorang muslim timur lenk tetap memperhatikan pengembangan islam bahkan dikatakan dia seorang yang shaleh. Timur lenk seorang ahli tassawuf dan penganut syi’ah. Dalam perjalananya, ia selalu membawa serta ulama-ulama sastrawan dan seniman. Ulama dan ilmuan dihormatinya. Ketika berusaha menaklukan syiria bagian utara, ia menerima degan hormat sejarawan terkenal, Ibnu Khaldun yang di utus sutan Faraj untuk membicarakan perdamaian.
Setelah timur lenk meninggal, dua orang anaknya, Muhammad Jehanekir dan Khalil, berperang memperebutka kekuasaan. Khalil ( 1404-1405 M ) keluar sebagai pemenang. Akan tetapi, ia hidup berfoya-foya menghabiskan kekayaan yang di tinggalkan ayahnya. Karena itu, saudaranya yang lain, syah rukh (1405-1447), merebut kekuasaan dari tanganya. Syah rukh berusaha untuk mengembalikan kewibawaan ayahnya dia adalah raja yang adil dan lemah lembut setelah meninggal lalu digantikan oleh putra nya yang bernama Ulugh bey, namun karena di bunuh oleh anaknya sendiri yang haus akan kekuasaan. Pada masa inilah kerajaan mulai terpecah belah. Wilayah kerajaan besar diperebutkan oleh dua suku turki yang baru muncul kepermukaan.
1.3  kerajaan mamalik/mamluk di mesir
KETIKA dunia Islam mengalami perpecahan politik pada awal abad ke-13, muncul sebuah dinasti di Mesir yang membawa warna baru dalam sejarah politik Islam.Dinasti itu bernama Mamluk, sering juga disebut Mamalik. Sebenarnya, ada dua pemerintahan Islam yang didirikan oleh kaum Mamluk yaitu, Dinasti Mamluk di India (1206-1290) yang dibentuk oleh Qutbuddin Aybak dan Dinasti Mamluk di Mesir (1250-1517).Namun, Dinasti Mamluk di Mesir lebih terkenal. Pemerintahan Dinasti Mamluk di Mesir bersifatoligarki ketenteraan dan membawa banyak kemajuan.Dinasti Mamluk mencapai puncak kejayaannya terutama pada masa Sultan Baybars. Ekonomi danperdagangan sangat maju. Kaherah menjadi jalur perdagangan penting bagi Asia Barat dan Laut Tengah.

Kemajuan ilmu pengetahuan terlihat dengan semakin berkembangnya berbagai-bagai cabang ilmu seperti sejarah, kedoktoran, astronomi, matematik dan ilmu agama. Saat itu muncul nama-nama ilmuwan besar seperti Ibnu Khaldun (sejarah), Nasiruddin at-Tusi (astronomi) dan Ibnu Taimiyah (agama).Di bidang pembangunan dan seni bina, kemajuan Dinasti Mamluk terlihat pada bangunan-bangunannya yang indah dan megah.

a.       Mamluk Bahri
Mamluk Bahri adalah golongan hamba yang datang Caucasus, di sempadan antara Rusia dengan Turki oleh Malik as-Saleh, penguasa Dinasti Ayubiyah. Mereka dijadikan pengawal untuk menjamin kelangsungan kekuasaan Malik dengan mendapat hak-hak istimewa.Malik as-Saleh meninggal dunia pada 1249 Masihi lalu digantikan oleh puteranya, Turansyah.

Bagaimanapun, kaum Mamluk Bahri tidak menyukai Turansyah dan mereka kemudian merebut kekuasaan dengan membunuh sultan tersebut. Sejak itu mereka berkuasa dan mendirikan Dinasti Mamluk.

b.      Mamluk Burji

Mamluk Burji pula berasal dari Syirkasiah (Turki), dibawa masuk ke Mesir oleh pemerintah Mamluk ketika itu, Sultan Qalawun (1279-1290). Bagaimanapun, sejak tampuk pemerintahan beralih kepada Mamluk Burji pada 1382 Masihi, Dinasti Mamluk mulai lemah kerana para sultan Mamluk Burji tidak memiliki pengetahuan tentang cara mentadbir pemerintahan kecuali latihan ketenteraan.Kesultanan ini hancur apabila Sultan Salim I dari kerajaan Uthmaniah di Turki merampas kembali Mesir daripada tangan mereka pada 1517 Masihi.

c.       Dinasti Mamlukdi India

Selain Dinasti Mamluk di Mesir, terdapat juga Dinasti Mamluk yang berkuasa di India. Dinasti Mamluk di India ini didirikan oleh Qutbuddin Aybak. Pada awalnya, Qutbuddin adalah salah seorang jeneral daripada Dinasti Guri yang berjaya memperluas wilayah ke India pada tahun-tahun terakhir abad ke-12.Ketika Dinasti Guri yang berpusat di Khurasan (Afghanistan) menjadi lemah, Qutbuddin mengukuhkan penguasaan sebagai Sultan Delhi dan mengasaskan Dinasti Mamluk India. Bagaimanapun, dinasti ini hanya bertahan sementara sahaja dan kemudian digantikan dengan dinasti-dinasti lain.

d.      Oligarki ketenteraan

Pemerintahan Dinasti Mamluk bersifat oligarki ketenteraan dan tidak menerapkan sistem turun temurun. Tokoh ketenteraan yang terkenal dan berprestasi dipilih menjadi sultan. Namun hal tersebut berubah sejak pemerintahan Qalawun. Baginda mula mewariskan kekuasaannya kepada keturunannya hingga kepada empat generasi sehingga kemudiannya terjadi perebutan kekuasaan di antara keturunannya itu. Dari 47 orang sultan Mamluk, sultan yang termasyhur adalah Sultan Baybars (1260-1277), sultan keempat. Baginda merupakan seorang pemimpin tentera yang gagah dan perkasa, bahkan dianggap sebagai pembangun hakiki Dinasti Mamluk.
Baybars mampu membangunkan pemerintahannya dengan baik. Baginda menghidupkan kembali Mazhab Sunni. Baybars juga menjalin hubungan yang baik dengan Kesultanan Delhi, Konstantinople, Sicily, dan Kesultanan Moghul.Seni bina pada masa Dinasti Mamluk berkembang dengan cemerlang. Para sultan seolah-olah berlumba-lumba untuk mendirikan bangunan bernilai seni yang tinggi seperti masjid, madrasah, dan muzium.

Dinasti Mamluk juga pernah terlibat dalam menambah Masjid Nabawi di Madinah serta mendirikan pagar di makam Nabi Muhammad SAW. Selain mendirikan masjid sebagai tempat ibadah dan pusat keilmuan, Sultan Qalawun merupakan pemerintah Mamluk yang mementingkan hal ehwal kesihatan rakyat. Hal ini dapat ditelusuri dengan pembinaan beberapa buah hospital pada zaman pemerintahannya.



















BAB III
PENUTUP
3.1 kesimpulan
Setelah dipaparkan tentang penjelasan di atas, jelaslah bahwa sejarah dari setiap kerajaan yang ada adalah sebuah sejarah yang patut kita pertimbangkan kebenarannya serta dari beberapa kerajaan yang mampu mendominasi kerajaan lain yang haus akan kekuasaan. Walaupun demikian kerajaan baik ilkhan,timur lenk atau mamluk adalah kerajaan yang cukup berpengaruh dalam sejarah peradaban islam bukan hanya dari segi politik bahkan ilmu pengetahuan, seni, budaya, tradisi serta adat istiadat yang berada di dalam tiga kerajaan besar ini pun mampu menghiasi dunia keislaman serta sejarah tentang adanya sebuah kerajaan islam yang mampu mengubah dunia. Akhirnya, ucapan terimakasih kepada pembaca serta yang terhormat bapak H. Yana Sutiana M.Ag selaku dosen mata kuliah Sejarah Peradaban Islam kami haturkan terima kasih dan mohon maaf karena makalah yang kami buat kurang dari kesempurnaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar