MAKALAH
DiajukanUntukMemenuhi
Salah SatuTugasTertrukstur Mata Kuliah
SejarahPeradaban
Islam
Oleh:
ASIKIN ABDUL AZIZ
FAKULTAS
SYARI’AH DAN HUKUM
UIN
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2012/2013
BAB I
Pendahuluan
1. Latar belakang
Kejayaan
islam telah di mulai ketika rasullah berhasil menguasai mekkah dan madinah.
Dengan berlandaskan ahlak yang baik, ketauhidan dan keyakinan yang kuat
sehingga beliau Nabi Muhammad SAW berhasil menegakkan islam dengan kaffah di
madinah. Kejayaan yang gelang gemilang ini diteruskan oleh para sahabat-sahabat
Nabi yang kemudian kita kenal dengan “khulafa ar-ryasiddin” dari mulai
Abu bakar ash-shidiq,umar bin khattab,ustman bin affan dan imam ali as.
Namun dengan berjalan-nya waktu dan
silih bergantinya kekuasaan banyak permasalah politik yang di alami oleh para
pemimpin-pemimpin muslim di akibat kan karena pemberontakan yang dilakukan oleh
para kaum yang tidak menyetujui pembai’atan pemimpin yang di rasa kurang atau
ketidak pantasan untuk memimpin kaum muslim. Seperti ketika imam Ali as
memimpin kaum muslim sebagai khalifah ke-empat yang menggantikan ustman bin
affan yang wafat, ketidak setujuan kepemimpinan ali langsung di lontarkan oleh
muawiyyah bin abu sufyan dikarenakan mencurigai Ali atas kematian Ustman bin
affan. Terjadinya timpang tindih ini
mengakibatkan pemberontakan yang amat besar sehingga perang saudara pun tak
dapat terelakan. Setelah pemberontakan yang cukup lama di lontarkan oleh
Muawwiyah akhirnya Imam Ali pun terbunuh dan kekuasaan pun di pegang oleh
muawiyyah yang terkenal sebagai pendiri Dinasti Bani Umayah yang terletak di
syiri’a tepat nya di Damaskus.
Tidak sampai disini
peralihan kekuasaan yang di pegang Bani Umayah pun mendapat pemberontakan
khususnya dari pihak Bani Abbasiyah yang mendominasi pemerintahan Bani Umayah
dan berhasil merebut kekuasaan dari tangan Bani Umayyah. Pergantian kekuasaan
dan pemberontakan ini tidak lepas dari prediksi Nabi Muhammad SAW beliau
Bersabda.. “ kekhalifahan setelah ku akan berlangsung dalam rentang waktu
tiga puluh tahun kemudian berubah menjadi kerajaan yang mencengkram” dalam
hadist tersebut perlu diakui bahwasannya ke khalifahan yang hakiki atau yang
sempurna hanya berlangsung tiga puluh
tahun. Maka di sini kami akan memaparkan tiga kerajaan besar yang mempunyai
kekuasaan yang cukup besar pula yaitu kerajaan ilkhan,kerajaan timur lenk dan
kerajaan mamluk/mamalik.
1. Rumusan masalah
1.
Sejarah
kerajaan ilkhan kejayaan dan kemunduranya ?
2.
Sejarah
kerajaan timur lenk ?
3. Sejarah kerajaan mamluk/mamalik ?
BAB II
PEMBAHASAN
1.1 kerajaan ilkhan kejayaan dan kemunduran
Bani Ilkhan, berasal
dari rumpun bangsa Mongol, yang pernah berkuasa di kawasan Asia Tengah pada
rentang masa 1256–1353 M dengan pusat kekuasaan di Turkistan. Bangsa Mongol,
merupakan bangsa yang berasal dari daerah pegunungan Mongolia yang membentang
dari Asia Tengah sampai ke Siberia Utara, Tibet Selatan dan Manchuria Barat
serta Turkistan Timur, dimana nenek moyang mereka bernama Alanja Khan, yang
mempunyai dua putera kembar, Tartar dan Mongol. Dari kedua inilah melahirkan
dua suku bangsa besar, Mongol dan Tartar. Dan selanjutnya Mongol mempunyai anak
bernama Ilkhan yang kemudian dirujuk menjadi Bani Ilkhan, yang melahirkan
keturunan pemimpin bangsa Mongol di kemudian hari.
Dalam rentang waktu
yang sangat panjang, kehidupan bangsa Mongol tetap sederhana. Mereka mendirikan
kemah-kemah dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, menggembala
kambing dan hidup dari hasil buruan. Mereka juga hidup dari hasil perdagangan
tradisional, yaitu mempertukarkan kulit binatang dengan binatang yang lain,
baik di antara sesama mereka maupun dengan bangsa Turki dan Cina yang menjadi
tetangga mereka. Sebagaimana umumnya bangsa nomaden, orang-orang Mongol
mempunyai watak yang kasar, suka berperang, dan berani menghadang maut dalam
mencapai keinginannya. Akan tetapi, mereka sangat patuh kepada pemimpinnya.
Mereka menganut agama Syamaniah (Syamanism), menyembah bintang-bintang, dan
sujud kepada matahari yang sedang terbit.
Dinasti Ilkhan adalah
sebuah dinasti yang dibangun oleh orang-orang Mongol, ketika mereka berhasil
menginvasi dan menguasai Baghdad sebagai pusat kekuasaan dari Khilafah
Abbasiyah. Dinasti Ilkhan berdiri pada tahun 1258, pada saat Hulagu Khan
berhasil memantapkan kekuasaannya di Baghdad (Harun Nasution, 1985: 80). Ilkhan
sendiri artinya artinya warga khan yang agung (C.E. Bosworth, 1993:176). Ilkhan
juga adalah gelar yang diberikan kepada Hulaghu Khan sebagai bentuk penghargaan
terhadap prestasi-prestasinya yangdiperolehnya ketika sukses melakukan ekspansi
wilayah dan mengalahkan setiap musuh-musuhnya.
Dinasti Ilkhan telah
eksis lebih dari delapan dasawarsa. Ketika membicarakan dinasti Ilkhan, di
kalangan para peneliti atau pemerhati sejarah umumnya mereka bersepakat bahwa
Dinasti Ilkhan yang memerintah di wilayah Iran, Irak, Anatolia dan
daerah-daerah lainnnya didirikan di atas banjir darah manusia dan puing-puing
kehancuran dari institusi kekuasaan yang dihancurkannnya. Pandangan ini
tidaklah keliru dan bisa dipahami, karena Hulagu Khan sebagai pendiri dari
dinasti Ilkhan beserta tentaranya, kehadirannnya ke berbagai wilayah hanya
mendatangkan malapetaka dan menimbulkan bencana bagi manusia.
Fakta sejarah telah
banyak menunjukkan bahwa pada saat Hulagu Khan melakukan penyerbuan banyak
penduduk dari beberapa kota dan kampung dimusnahkan secara sistemik. Di setiap
daerah yang dijumpai acapkali ditemukan telah kosong dan menjadi tidak
berpenduduk disebabkan oleh kehadiran pasukan penyerbu dan oleh gelombang
tentara Mongol yang mengusir kaum petani. Kaum penyerbu tersebut membantai
penduduk setempat, menjadikan mereka sebagai budak dan membebani mereka dengan
pajak, sehingga menyita seluruh kekayaan mereka. Dalam konteks ini Ira M.
Lapidus (1999:428) sampai menyatakan penyerbuan Hulagu Khan sebagai sebuah
bencana besar yang melanda penduduk akibat pembantaian dan pembunuhan. Tidak
hanya itu, kehidupan perekonomian pun hancur karena selama satu abad atau lebih
salah satu sumber penghidupan masyarakat Iran yaitu kerajinan tembikar dan
pengolahan logam tidak bisa berproduksi.
Rezim dari Dinasti
Ilkhan yang berkuasa di Iran, Irak, Anatolia, pada kenyataannnya lebih
merupakan sebuah rezim penakluk. Dinasti ini dibentuk dari sebuah pasukan besar
yang dihimpun dari para aristokrasi militer kesukuan yang bersekutu dengan
dinasti yang sedang berkuasa. Kelompok aristokrat ini dalam perjalanannya telah
memandang diri mereka sendiri sebagai manusia istimewa yang berhak mendominasi
dan memungut pajak kepada rakyatnya. Rasa superioritas ini terefleksi dari
sebuah undang-undang yang dimilikinya, Alyasak, yang menetapkan hak-hak dan
kewajiban kalangan elite dan pengesahan pemerintahannnnya(Hassan Ibrahim
Hassan, 1967: 136-139).
Raja-raja Dinasti
Ilkhan memerintah di Iran, Irak, Anatolia dan daerah-daerah disekelilingnya
dilakukan dengan me-manaje distribusi tanah kepala-kepala militer untuk
mengolahnya atau memungut pajak atasnya. Selanjutnya kepala-kepala militer
tersebut membagi-bagikan tanah tersebut di antara anak buah mereka. Padang
rumput dan tanah garapan dipadukan menjadi sebuah pertanahan yang disebut
Tuyul, sebuah konsep yang memadukan cita-cita Mongolian tentang distribusi
padang rumput dan konsep administratif Iran tentang distribusi hak mengumpulkan
pajak (Ira M. Lapidus, 1999: 430).
Kemudian, roda
pemerintahan Mongol dijalankan dengan menggantungkan diri melalui dukungan
keluarga-keluarga bangsawan setempat, sebagaimana yang pernah terjadi pada
beberapa dinasti Seljuk sebelumnya. Kebijakan para penguasa Dinasti Ilkhan
dalam melaksanakan roda pemerintahannnya berusaha menyatukan diri dengan
beberapa birokrat, para pedagang, dan ulama perkotaan Iran. Ulama melanjutkan
atau memperkokoh kedudukan mereka dengan memposisikan diri sebagai elit lokal.
Para ulama pada masa Dinasti Ilkhan umumnya banyak mengisi jabatan qadhi, dai,
kepala pasar, dan sejumlah jabatan lainnya (Ira M. lapidus, 1999: 430).
Selanjutnya Ira M.
lapidus (1999: 430-431 ) memberikan gambaran tentang kehidupan kelompok elit
yang hidup di perkotaan. Kelompok elit yang hidup diperkotaan di mana prestise
mereka didasarkan pada pendidikan Islam, umumnya kekuasaan mereka didasarkan
kepada unsur kepemilikan tanah, perkebunan dan kekuasaannya menangani tanah
wakaf. Para penguasa Dinasti Ilkhan telah menempatkan kedudukan kelompok ini
dalam tugas-tugas administrasi finansial dan yudisial untuk menyokong
kelangsungan pemerintahan lokal dan menahan dampak negatif akibat perubahan
rezim militer. Kelompok ini juga ditugaskan untuk membantu tugas administratif
dalam pembentukan pemerintahan Dinasti Ilkhan .
Wilayah kekuasaan
dinasty Ilkhan sangat luas, meliputi bagdad, asia kecil dan india sebelah
timur. Di dalam perkembanganya, Dinasti Ilkhan banyak di pimpin oleh
pemimpin-pemimpin yang gagah berani dan taat pada agama. Tetapi tidak semua
masa keemasan itu dirasakan oleh Dinasti Ilkhan, banyak faktor yang meyebabkan
kemunduran Dinasti Ilkhan, mulai dari kelemahan-kelemahan pemimpin pada masa
akhir Dinasty Ilkhan dan serangan yang dilakukan oleh raja yang gagah berani
yang suka berekspedisi untuk melakukan penaklukan-penaklukan dinasty lainya
yaitu yang bernama Timur Lenk.
Dinasty Ilkhan yang didirikan oleh
Hulagu Khan ini terpecah pada masa kepemimpinan Abu Sa’id (1317-1335 M) dan
setelahnya. Masing-masing pecahan saling memerangi. Dan akhirnya, mereka semua
menjadi lemah dan mudah dilakukan oleh Timur Lenk.
1.2 kerajaan timur lenk
Kedatangan Timur Lenk
ke dunia Islam tidak kurang membawa kehancuran , bahkan ia lebih kejam daripada
Jengiskan atrau Hulagukhan. Berbeda dengan Jengiskan atau Hulagukhan yang masih
menganut kepercayaan Syamaniah, Timur Lenk ini sudah menganut agama “Islam.”Pada
tanggal 10 April 1370 M. Timur Lenk memproklamirkan diri sebagai penguasa
tunggal di Tranxosiana. Ia berencana untuk menaklukkan daerah-daerah yang
pernah dikuasai oleh Jengiskhan. Ia berkata : “Sebagaiamana hanya ada satu
Tuhan di alam ini , maka di bumi seharusnya hanya ada seorang raja.”Pada tahun
1381 M. ia menaklukkan Khurasan, terus ke Afganistan, Persia, Fars dan
Kurdistan.
Sekalipun ia terkenal
sebagai penguasa yang sangat ganas dan kejam terhadap para penentang nya,
sebagai seorang muslim timur lenk tetap memperhatikan pengembangan islam bahkan
dikatakan dia seorang yang shaleh. Timur lenk seorang ahli tassawuf dan
penganut syi’ah. Dalam perjalananya, ia selalu membawa serta ulama-ulama
sastrawan dan seniman. Ulama dan ilmuan dihormatinya. Ketika berusaha
menaklukan syiria bagian utara, ia menerima degan hormat sejarawan terkenal,
Ibnu Khaldun yang di utus sutan Faraj untuk membicarakan perdamaian.
Setelah timur lenk
meninggal, dua orang anaknya, Muhammad Jehanekir dan Khalil, berperang memperebutka
kekuasaan. Khalil ( 1404-1405 M ) keluar sebagai pemenang. Akan tetapi, ia
hidup berfoya-foya menghabiskan kekayaan yang di tinggalkan ayahnya. Karena
itu, saudaranya yang lain, syah rukh (1405-1447), merebut kekuasaan dari
tanganya. Syah rukh berusaha untuk mengembalikan kewibawaan ayahnya dia adalah
raja yang adil dan lemah lembut setelah meninggal lalu digantikan oleh putra
nya yang bernama Ulugh bey, namun karena di bunuh oleh anaknya sendiri yang
haus akan kekuasaan. Pada masa inilah kerajaan mulai terpecah belah. Wilayah
kerajaan besar diperebutkan oleh dua suku turki yang baru muncul kepermukaan.
1.3 kerajaan mamalik/mamluk di mesir
KETIKA
dunia Islam mengalami perpecahan politik pada awal abad ke-13, muncul sebuah
dinasti di Mesir yang membawa warna baru dalam sejarah politik Islam.Dinasti
itu bernama Mamluk, sering juga disebut Mamalik. Sebenarnya, ada dua
pemerintahan Islam yang didirikan oleh kaum Mamluk yaitu, Dinasti Mamluk di
India (1206-1290) yang dibentuk oleh Qutbuddin Aybak dan Dinasti Mamluk di
Mesir (1250-1517).Namun, Dinasti Mamluk di Mesir lebih terkenal. Pemerintahan Dinasti
Mamluk di Mesir bersifatoligarki ketenteraan dan membawa banyak
kemajuan.Dinasti Mamluk mencapai puncak kejayaannya terutama pada masa Sultan
Baybars. Ekonomi danperdagangan sangat maju. Kaherah menjadi jalur perdagangan
penting bagi Asia Barat dan Laut Tengah.
Kemajuan ilmu pengetahuan terlihat
dengan semakin berkembangnya berbagai-bagai cabang ilmu seperti sejarah,
kedoktoran, astronomi, matematik dan ilmu agama. Saat itu muncul nama-nama
ilmuwan besar seperti Ibnu Khaldun (sejarah), Nasiruddin at-Tusi (astronomi)
dan Ibnu Taimiyah (agama).Di bidang pembangunan dan seni bina, kemajuan Dinasti
Mamluk terlihat pada bangunan-bangunannya yang indah dan megah.
a. Mamluk Bahri
Mamluk Bahri adalah golongan hamba yang
datang Caucasus, di sempadan antara Rusia dengan Turki oleh Malik as-Saleh,
penguasa Dinasti Ayubiyah. Mereka dijadikan pengawal untuk menjamin
kelangsungan kekuasaan Malik dengan mendapat hak-hak istimewa.Malik as-Saleh
meninggal dunia pada 1249 Masihi lalu digantikan oleh puteranya, Turansyah.
Bagaimanapun, kaum Mamluk Bahri tidak
menyukai Turansyah dan mereka kemudian merebut kekuasaan dengan membunuh sultan
tersebut. Sejak itu mereka berkuasa dan mendirikan Dinasti Mamluk.
b. Mamluk Burji
Mamluk Burji pula berasal dari
Syirkasiah (Turki), dibawa masuk ke Mesir oleh pemerintah Mamluk ketika itu,
Sultan Qalawun (1279-1290). Bagaimanapun, sejak tampuk pemerintahan beralih
kepada Mamluk Burji pada 1382 Masihi, Dinasti Mamluk mulai lemah kerana para
sultan Mamluk Burji tidak memiliki pengetahuan tentang cara mentadbir
pemerintahan kecuali latihan ketenteraan.Kesultanan ini hancur apabila Sultan
Salim I dari kerajaan Uthmaniah di Turki merampas kembali Mesir daripada tangan
mereka pada 1517 Masihi.
c. Dinasti Mamlukdi India
Selain Dinasti Mamluk
di Mesir, terdapat juga Dinasti Mamluk yang berkuasa di India. Dinasti Mamluk
di India ini didirikan oleh Qutbuddin Aybak. Pada awalnya, Qutbuddin adalah
salah seorang jeneral daripada Dinasti Guri yang berjaya memperluas wilayah ke
India pada tahun-tahun terakhir abad ke-12.Ketika Dinasti Guri yang berpusat di
Khurasan (Afghanistan) menjadi lemah, Qutbuddin mengukuhkan penguasaan sebagai
Sultan Delhi dan mengasaskan Dinasti Mamluk India. Bagaimanapun, dinasti ini
hanya bertahan sementara sahaja dan kemudian digantikan dengan dinasti-dinasti
lain.
d. Oligarki ketenteraan
Pemerintahan
Dinasti Mamluk bersifat oligarki ketenteraan dan tidak menerapkan sistem turun temurun.
Tokoh ketenteraan yang terkenal dan berprestasi dipilih menjadi sultan. Namun
hal tersebut berubah sejak pemerintahan Qalawun. Baginda mula mewariskan
kekuasaannya kepada keturunannya hingga kepada empat generasi sehingga
kemudiannya terjadi perebutan kekuasaan di antara keturunannya itu. Dari 47
orang sultan Mamluk, sultan yang termasyhur adalah Sultan Baybars (1260-1277),
sultan keempat. Baginda merupakan seorang pemimpin tentera yang gagah dan
perkasa, bahkan dianggap sebagai pembangun hakiki Dinasti Mamluk.
Baybars
mampu membangunkan pemerintahannya dengan baik. Baginda menghidupkan kembali
Mazhab Sunni. Baybars juga menjalin hubungan yang baik dengan Kesultanan Delhi,
Konstantinople, Sicily, dan Kesultanan Moghul.Seni bina pada masa Dinasti
Mamluk berkembang dengan cemerlang. Para sultan seolah-olah berlumba-lumba
untuk mendirikan bangunan bernilai seni yang tinggi seperti masjid, madrasah,
dan muzium.
Dinasti
Mamluk juga pernah terlibat dalam menambah Masjid Nabawi di Madinah serta
mendirikan pagar di makam Nabi Muhammad SAW. Selain mendirikan masjid sebagai
tempat ibadah dan pusat keilmuan, Sultan Qalawun merupakan pemerintah Mamluk
yang mementingkan hal ehwal kesihatan rakyat. Hal ini dapat ditelusuri dengan
pembinaan beberapa buah hospital pada zaman pemerintahannya.
BAB III
PENUTUP
3.1 kesimpulan
Setelah dipaparkan
tentang penjelasan di atas, jelaslah bahwa sejarah dari setiap kerajaan yang
ada adalah sebuah sejarah yang patut kita pertimbangkan kebenarannya serta dari
beberapa kerajaan yang mampu mendominasi kerajaan lain yang haus akan kekuasaan.
Walaupun demikian kerajaan baik ilkhan,timur lenk atau mamluk adalah kerajaan
yang cukup berpengaruh dalam sejarah peradaban islam bukan hanya dari segi
politik bahkan ilmu pengetahuan, seni, budaya, tradisi serta adat istiadat yang
berada di dalam tiga kerajaan besar ini pun mampu menghiasi dunia keislaman
serta sejarah tentang adanya sebuah kerajaan islam yang mampu mengubah dunia.
Akhirnya, ucapan terimakasih kepada pembaca serta yang terhormat bapak H. Yana
Sutiana M.Ag selaku dosen mata kuliah Sejarah Peradaban Islam kami haturkan
terima kasih dan mohon maaf karena makalah yang kami buat kurang dari
kesempurnaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar